Kamis, 13 Desember 2012

sejarah bidan



1.            Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Luar Negeri

a.  Sebelum abad 20 (1700-1900)
William Smellie dari Scotlandia (1677-1673) mengembangkan forceps dengan kurva pelvic seperti kurva shepalik. Dia memperkenalkan cara pengukuran konjungata diagonalis dalam pelvimetri. Menggambarkan metodenya tentang persalinan lahirnya kepala pada presentasi bokong dan pegangan resusitasi bayi aspiksi dengan pemompang paru-paru melalui sebuah metal kateler. Ignoz Philip semmelweis, seorang dokter dari Hungaria (1818-1865) pengenalan Semmelweis tentang cuci tangan yang bersih mengacu pada pengendali sepsis puerperium. James Young simpson dair Edenburgh, Scotlandia (1811-1870) memperkenalkan menggunakan arestesi umum, tahun 1870, Ergot sejenis cendawan yang tumbuh pada sejenis gandum hitam, diketahui efektif dalam mengatasi pendarahan postpartum. Hal ini merupakan permulaan pengguguran. Tahun 1824       Jamess Blundell dari Inggris  yang menjadi orang pertama yang berhasil menangani perdarahan postpartum dengan menggunakan transfuse darah. Jean Lubumean  dari Prancis (orang kepercayaan Rene Laenec, penemu Stetoskop pada tahun 1819) pertama kali mendengar bunyi jantung janin dengan stetoskop pada tahun 1819. Jhon Carles Weaven dari Inggris (1811-1859), pada tahun1843, pertama yang melakukan testurine pada wanita hamil untuk pemeriksaan dan menghubungkan kehadirannya dengan eklamsia. Adolf Pinard dari Prancis (1844-1934) pada tahun 11878, mengumumkan kerjanya pada palpisi abdominal Carl Crede dari Jerman (1819-1892). Menggambarkan metodenya stimulasi urine yang lembut dari lentur untuk mengeluarkan placenta. Juduiq Bald dokter obsetetri dari jerman (1842-1992), pada tahun 1875, menggambarkan lingkaran retraksi yang pasti muncul pada pertemuan segment atas rahim dan segmen bawah rahim dalam persalinan macet/sulit. Dauce dari Bordeauz. Pada tahun 1857, memperkenalkan pengguran incubator dalam perawatan bayi premature.

b. Abad 20
Postnatal care sejak munculnya ospitalisasi untuk persalinan telah berubah dari perpanjangan masa rawatan sampai 10 hari, ke trend “Modern”  ambulasi diri. Yang pada kenyataannya, suatu pengembalian pada “caqra yang lebih alami”. Selama beberapa tahun, pemisahan ibu dan bayi merupakan praktek yang dapat diterima dibanyak ruma sakit, dan alat menyusui bayi buatan menjadi dapat diterima, dan bahkan oleh norma! Bagamanapun alami sekali lagi “membuktikan dirinya”rooing-in” dipraktekan dan menyusui dipromosikan disemua rumah sakit yang sudah mendapat penerangn. Perkembangn teknoloogi yang cepat telah monitoring anthepartum dan intrapartum yang tepat menjadi mungkin dengan pengguran ultrasonografi dan cardiotocografi, dan telah merubah prognosisbagi bayi premature secara dramatis ketika dirawat di neonatal intersive secara urits, hal ini juga memungkinkan perkembangan yang menakjubkan.


1.   Pelayanan dan Pendidikan di Beberapa Negara
Pelayanan Bidan di Afrika Selatan
Perusakan Hindia Belanda timur yang membentuk tempat makanan dan minuman di semenanjung. Mempunyai prakiraan-prakiraan yang menykir praktek para bidan yang dapat diterapkan di semenanjung tersebut. Tapi mereka tidak menunjukkan bidan pemerintah atau bidan yang sudah diangkat sumpah selama beberapa tahun peraturan-peraturan tersebut menerapkan bahwa para bidan harus diuji dan diberi lisensi/izin dan mereka harus memanggil pertolongan medis bila ada indikasi. Saat penempatan diperluas, wanita didesa khususnya harus ditolong oleh wanita yang lebih tua belum dliat dari masyarakat. Bidan pemerintah memperoleh penghargaan yang tinggi salah satu dari mereka. Alkta Kaister, ditunjuk padda tahun 1687 sebagai kepala keperawatan dirumah sakit persahaan, dan menjadi bidan pertama yang melaksanakan tugas-tugas perawatan umum sebagaimana tugas-tugas kebidanan. Pelayanan kebidanan pertama diberikan sekaligus oleh pegawai pemerintah dan bidan swasta di lebih  banyak wilayah berkembang, sementara masyarakat pedesaan dilayani oleh wanita penuh baya yang belum terlatih dengan penglaman kebidanan “outansi” yang seringkali melaksanakan perawatan umum dan bahkan pelayanan untuk hewan pelihraan untuk hewan peliharaan juga dalam beberapa hal/keadaan. Situasi itu masih berlaku. Terlihat dimana terdapat sedikit perkembangan dalam pelayanan dan pelatihan kebidanan sampai awal abad 19 dibawah pemerintahan Batavia yang mengambil alih semenanjung dari perusahaan Hindia-Belanda timur yang bubar, seorang dokter bedah bernama Dr. Leishing mereka mendasikan dimana telah didirikan sebuah sekolah kebidanan ini untuk menggnikan sistem magang perusahaan dan terjadi sebelum pendudukan British kedua di semenanjung tersebut. Komite Medis tertinggi meninjau kembali lisensi dokter, bidan dan apoteker dan menemukan bahwa enam bidan yang sudah mempunyai lisensi tidak memenuhi criteria mereka. Ide pendirian sekolah kebidanan baru terlaksana pada tahun 1808, saat seiring dokter bedah dari pemerintah Batavia terdahulu. Dr. Johan Hunrich Frederich carel Leopold wehr, mengajukan permohonan gebernur semenanjung untuk mendirikan sekolah seperti itu. Dr Wehr sangat tertarik pada kebidanan, dan dia mengungkapkan perhatian besar pada kurangnya bidan yang berkualitas bagi cape town dan daerah-daerahnya dan standar asuhan kebidanan yang jelek di berikan oleh orang-orang yang tidak mempunyai lisensi/izin. Dia ditunjuk sebagai accoucher colonial dengan wewenang untuk melatih sejumlah besar bidan untuk melayani masyarakat. Dia akan membantu para bidan yang bekerja diantara orang miskin, tanpa bayarannya, tapi dia meminta gaji yang sesuai untuk mengimbangi pelayanannya disana. Gubernur Earl of Caledon menyetujui pendirian sekolah tersebut pada tanggal 1 november 1810, dan Dr Wehr ditunjuk sebagai instruksi colonial kebidanan. Dengan demikian lahirlah sekolah professional pertama dari jurusannya di afrika selatan dan pelatihan para bidan dimulai pada tahun 1811.  Tujuh kandidat yang menyelesaikan peklatihan tersebut dan terkualifikasi pada tahun 1813 merupakan profisional pertama yang terlatih dan terkualifikasi di Afrika Selatan. Kode Etik yang diikrarkan dipegang teguh saat mereka melakukan “Sumpah Jabatan” yang mencangkup banyak elemen yang tewujud dalam kode etik/sikap saat ini. Kode ini meliputi persyaratan untuk perilaku pribadi/perorangan, hubungan dengan bidan yang lain dengan dokter dan utusan agama, rahasia profesi, dan meminta bantuan medis jika diperlukan. Perkembangan-perkembangan pada tahun20. Usia yang diizinkan masuk sebelum ada peraturan-peraturan dewan medis Afrika Selatan, tidak ada penentuan batas usiia. Beberapa sekolah menetapkan bahwa para siswa harus berusia 24-50 tahun, sekolah yang lain menetapkan 21-45 tahun. Semua sekolah mewajibkan orang yang sudah dewasa. Kebidanan bulan merupakan profesi yang diinginkan bagi gadis-gadis yang belum menikah. Kemudian siswa perawat dan siswa bidan tidak diizinkan untuk menikah dan siapapun yang belum memutuskan untuk menikah harus berhenti dari pelatihan. Peraturan-peraturan tersebut dipelonggar dan wanita yang sudah menikah diizinkan untuk melanjutkan pelatihan.